Jerat Mematikan Rentenir Pinjam 15jt Sudah Memcicil 65jt Minta Lagi 60jt -->

Translate

RESOLUSITV

RESOLUSITV
AKURAT DAN TERPECAYA
RESOLUSITV

UNGKAP FAKTA

ENTRI YANG DI UNGGULKAN

Kecewa,Anggap Bupati Tak Becus,LSM MAJAS dan FORMAT ASTIM Gelar Aksi Damai di Depan Kantor Bupati

 Lampung Timur | Resolusitv.com Dalam aksi damai para Demonstran menyampaikan aspirasinya dimana patut diduga Bupati Lampung Timur M.Dawam R...

Jerat Mematikan Rentenir Pinjam 15jt Sudah Memcicil 65jt Minta Lagi 60jt

RESOLUSITV
Minggu, Januari 16, 2022


http://www.resolusitv.com
JERAT MEMATIKAN RENTENIR DI LAMPUNG TIMUR, PINJAM 15JT SUDAH MENCICIL 65 JT MINTA LAGI 60JT


resolusi tv, lampung timur, 15 Januari 2022

ENS adalah warga salah satu desa di Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, karena lilitan ekonomi telah mendorongnya berurusan dengan rentenir.

Beberapa kali peminjaman telah membuatnya memiliki pinjaman dengan total 15 juta rupiah dengan bunga 4.500.000 per bulan, sudah mencicil 18 bulan jadi total sudah mencicil 67.500.000 dan saat ini sudah tidak pernah membayar 10 bulan, rentenirnya minta bayaran 60 juta, yaitu pokok + bunga tapi kemudian perminggu dinaikkan 5 juta kadi masuk ke minggu ke dua sudah jadi 70 juta kalau tidak mereka minta tanah yang diagunkan itu segera balik nama ke Notaris sementara harga tanah itu 300-500 juta.

"Ibu sudah bingung sekali karena nagih ke rumah sudah tidak kenal waktu, pernah hampir tangah malam bahkan pernah belum sampai jam 6 sudah nagih dan teriak-teriak dan kalau mau bayar sekarang juga kalau mau cari uang mereka antar, mana ada orang mau minjemin kalau kita sudah dianterin orang yang tidak mereka kenal, kalau intimidasi mau diculik mau dibunuh itu sudah biasa". Jelas Ibu ENS dengan berurai air mata dan didampingi suami yang hampir dua jam pertemuan itu tak berucap sepatah kata pun.


ENS pun mengatakan pernah melaporkan keadaannya ke Kepala Desa tapi Kepala Desanya mengatakan bayar saja selesai karena bukan kewenangan Kepala Desa kalau urusan Utang Piutang. Maka ENS pun pernah melaporkan kondisinya ke Kepala Desa Sukadana Ilir Bapak Hamami yang Alhamdulillah disaat itu juga Kepala Desa Sukadana Ilir langsung Koordinasi dengan Lembaga Perlindungan Konsumen.

Seorang penggiat sosial di Lampung Timur MD kaget mendengar tetangga dekat rumahnya yang juga masih punya pertalian saudara dengannya, sang aktifispun menyatakan siap bergabung karena dia sendiri tahu tindakan rentenir ini sudah diluar batas.

"Yang saya tahu itu ada RJ yang berproses sebagai buruh pasar rumahnya sudah mereka sita, dan juga MN yang buka warung makanan kecil (warung pecel-red) di depan rumahnya suami istri sudah pergi dari rumahnya karena mendapat intimidasi dari rentenir-rentenir itu". Papar MD

Sementara itu Herman Gunawan Ketua LPK Nusantara ketika ditemui di Balai Desa Sukadana Ilir saat sedang menerima pengaduan dari lebih kurang 10 emak-emak yang memiliki persoalan baik dengan Bank, Koperasi, BMT baik yang ilegal maupun legal mengatakan bahwa salah satu konsep menghadapi rentenir atau para Debt Colektor baik yang legal atau ilegal adalah kepedulian warga sekitar karena semakin banyak yang tau ada aktifitas sudah di luar kewajaran pelakunya akan terganggu juga.

"Aktifitas ilegal apapun itu namanya seperti kegiatan rentenir atau lintah darat kita ibaratkan praktek yang subur di dalam ruang yang gelap, apa itu ruang yang gelap di mana tidak banyak yang tau, maka kita akan upayakan untuk banyak yang tau, maka kita mengapresiasi kepedulian Bapak Hamami Kepala Desa Sukadana Ilir dan jajarannya yang memfasilitasi pengaduan ke masyarakatnya ini sangat luar biasa, praktek rentenir ini sama seperti Narkoba dan Terorisme sebuah kegiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, nah kalau Narkoba dan Terorisme pemerintah sudah menyiapkan perangkat penanganannya tapi kalau Rentenir belum, ya ada Bupati-bupati yang memiliki kepekaan terhadap kondisi masyarakatnya dengan mengambil kebijakan memerangi rentenir karenakan rentenir ini dilarang agama juga, karena baik peminjam maupun yang minjamin sama-sama berdosa". Jelas Herman panjang lebar dengan sesekali ikut nimbrung dalam obrolan anggotanya yang sedang melakukan wawancara dengan masyarakat yang sedang mengadukan permasalahannya dengan para pelaku usaha. (Anuari Abas)