Praktek Pengobatan DiDesa Raman Aji Milik SG Diduga Tanpa Mengantongi Ijin Lengkap -->

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Translate

RESOLUSITV

RESOLUSITV
AKURAT DAN TERPECAYA

ENTRI YANG DI UNGGULKAN

PPWI dan Lapas Salemba Jakarta Sepakat Tingkatkan Jalinan Kerjasama

Jakarta – Resolusitv.com Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) dan Lemba Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Salemba, Jakarta Pusat, sepakat ...

Praktek Pengobatan DiDesa Raman Aji Milik SG Diduga Tanpa Mengantongi Ijin Lengkap

RESOLUSITV
Jumat, November 05, 2021


Seorang oknum perawat di Desa Raman Aji, Kecamatan Raman Utara, nekat membuka praktik pengobatan kepada masyarakat tanpa disertai dengan surat ijin praktik perawat (SIPP).

Mereka beralasan, meski tidak mengantongi SIPP, praktik yang dijalankan sudah berlangsung lama, Ia juga mengaku, kalau tempat praktik nya mendapatkan Ijin Dari Sekwan Lampung Tengah yang bernama Samsi.



Bahkan SG tidak ada kuasa dari dari Dokter yang tugas di RSUD Lampung Timur.

Bukan hanya membuka tempat praktik pengobatan atau medis, SG Oknum Perawat tidak memasang plang pada tempat praktik nya.

5 November 2021, Saat SG diwawancara, ada seseorang yang ngebel ke Hp SG mengaku bernama Hendri, guna untuk berbincang dengan wartawan media ini, Hendri sempat mengatakan, itu saudara saya jangan diganggu ganggu, saya ini sama seperti kamu, tanya sama Firdaus,"mob Hendri.


Menurut Edo Pimpinan Umum NGO Lantai, Sebagai seorang perawat, meski telah mengenyam jalur pendidikan resmi dan memiliki Surat Tanda Register (STR) tidak serta-merta bisa membuka praktik pelayanan kesehatan begitu saja.

Apalagi, pelayanan kesehatan umum kepada masyarakat tersebut dibuka di rumah tanpa izin dan tidak memiliki papan nama serta kelengkapan lainnya sesuai dengan aturan yang ada.

Perawat yang akan membuka praktek seharusnya mengacu pada Permenkes RI Nomor HK.02.02/MENKES/148/I/2010 Tentang izin Penyelenggara Praktek Perawat dan Undang-undang Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan,"Tegas Edo.

Salah satu pasien perawat tersebut yang namanya tidak mau disebutkan mengatakan, sudah lama mengetahui oknum perawat SG yang bekerja sebagai perawat di salah satu RS Ahmadyani Kota Metro telah membuka praktek mandiri dirumahnya.

Pasien, menambahkan, dirinya juga sering berobat ke klinik yang tidak memiliki papan palang nama dan tertera izin praktek saat itu di tanganin oleh oknum perawat inisial SG, namo SG bisa mengeluarkan surat keterangan sehat untuk dirinya, berdasarkan keluhan saja.

Perawat SG terkadang nyuntik, dan memberikan obat tiga macam dengan biaya Rp. 45 ribu, sampai dirumah saya sempat ragu mengkonsumsi obat tersebut, benar saja berselang satu jam keluhan saya tidak hilang,” imbuhnya.

Ia mengeluhkan, bagaimana kalau efek dari obat pemberian perawat SG membuat keluhan yang dideritanya malah makin parah, lalu harus mengadu kemana dan meminta pertanggung jawaban kepada siapa nantinya,"tanya pasien.


Menanggapi hal ini, Ketua NGO Lantai Lampung Timur Narso meminta agar Pemerintah Daerah khusunya Dinas Kesehatan untuk bertindak tegas terhadap ulah seorang oknum perawat ini sebelum adanya korban dalam penanganan medis.

“Dinkes Kabupaten Lampung Timur harus berani meni menindak para pelaku praktek tenaga kesehatan bukan dokter yang tidak memasang palang dan belum mengantongi izin. Dan kami meminta agar oknum perawat ini di proses secara hukum,” Tegasnya.

Karena menurutnya, praktek tanpa izin itu telah melanggar peraturan, padahal sudah jelas tertera Praktek ilegal ini telah berjalan tahunan.

“Hal ini jelas telah melanggar Undang Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 23 ayat 3 dan Undang Undang Republik Indonesia Tahun No. 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan pasal 19 ayat 1 dengan sangsi Pidana dengan ancaman kurungan/penjara maksimal 15 tahun,” tegasnya. (Red/tim)