Terkait Pernikahan Anak Dibawah Umur,Ketua AKRAP Langsung Angkat Bicara -->

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Translate

RESOLUSITV

RESOLUSITV
AKURAT DAN TERPECAYA

ENTRI YANG DI UNGGULKAN

PPWI dan Lapas Salemba Jakarta Sepakat Tingkatkan Jalinan Kerjasama

Jakarta – Resolusitv.com Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) dan Lemba Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Salemba, Jakarta Pusat, sepakat ...

Terkait Pernikahan Anak Dibawah Umur,Ketua AKRAP Langsung Angkat Bicara

RESOLUSITV
Minggu, April 18, 2021


https://www.resolusitv.com/2021/04/diduga-dua-oknum-kades-menjaminkan.html


Terkait pemberitaan pernikahan anak di bawah umur yang terjadi di Kecamatan way Jepara, 

Ketua Advokasi Kelompok Rentan anak dan perempuan (AKRAP) Lampung,  Edi Arsadad menyayangkan sikap dua kepala Desa yang turut serta membantu pernikahan anak di bawah umur tersebut,

" Apabila benar perkawinan anak dibawah umur itu di inisiasi oleh kepala Desa, sangat disayangkan sekali. Harusnya mereka tahu bahwa tidak boleh terjadi perkawinan anak di bawah umur" Ujar Edi.

Edi melanjutkan, sudah semestinya pernikahan anak  dicegah sebab bila itu terjadi, maka hak anak meliputi hak pendidikan maupun hak memperoleh kesehatan yang baik juga terganggu karena organ reproduksinya belum matang namun dipaksa untuk hamil. 

"Dampaknya   anak akan berhenti sekolah, kemiskinan yang berulang, stunting, serta mengganggu tumbuh kembang anak. Bagaimana kemudian seorang anak harus mengasuh anak, " ungkapnya

Ditambahkan oleh Edi, Secara fisik dan psikologis, usia anak bukanlah usia yang tepat untuk menikah. Pernikahan menjadi upaya untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal, bila pernikahan itu terjadi karena pemaksaan, maka tujuan itu sirna. 

“Kalau kemudian perkawinan dipaksakan dan yang menjalani tidak siap maka dampak jangka panjangnya adalah ketidakbahagiaan dalam keluarga dan efek dominonya adalah kesejahteraan  anak terganggu," pungkasnya.
Regarding the news about the marriage of minors that occurred in the Way Jepara District,

Head of Advocacy for Vulnerable Children and Women (AKRAP) Lampung, Edi Arsadad, regretted the attitude of the two village heads who participated in helping the underage marriage,

"If it is true that the marriage of minors was initiated by the village head, it is very unfortunate. They should know that marriage of minors should not occur," said Edi.

Edi continued, child marriages should have been prevented because if that happened, the child's rights including the right to education and the right to good health were also disrupted because their reproductive organs were immature but were forced to become pregnant.

"The impact is that children will stop going to school, recurrent poverty, stunting, and disrupt children's growth and development. How then should a child take care of a child," he said

Added by Edi, Physically and psychologically, children's age is not the right age for marriage. Marriage is an effort to form a happy and eternal family, if the marriage occurs because of coercion, that purpose disappears.

"If then the marriage is forced and those who undergo it are not ready, the long-term impact is unhappiness in the family and the dominant effect is that the welfare of the child is disturbed," he concluded.